Gereja dan Kota Jakarta

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Tulisan ini ingin melihat Gereja dan kota Jakarta serta sekilas kehidupan persekutuan (baca: komuniti) warganya. Apa sebab kita perlu melihat lagi kota Jakarta dan sekitarnya.  Bukankah kita tidak kurang kerjaan sehingga mau merepotkan diri menyelami dan merasakan denyut kota, padahal tiap hari kita hidup di kota. Jika manusia ingin membuat kehidupan lebih baik, Ia mesti melihat dirinya sendiri dan sekelilingnya yang merupakan kota. Berlandaskan hal itu perlulah rasanya kita melihat kota.

Bukan sekedar melihat saja melainkan dengan penghayatan yang dalam. Melihat dengan menggunakan pemahaman yang lebih luas tentang berbagai hal menyangkut kehidupan menyeluruh pada sebuah kota. Melihat gereja mestinya dengan menggunakan indera penglihatan memakai banyak kacamata serta indera pendengaran agar lebih jelas, terang  dan jernih. Sebagian orang mengamati dengan berbagai aspek yaitu historis, ekonomi, hukum, politik, birokrasi, agama, dan lain-lainnya.

Dalam tulisan ini saya ingin mengulas dan membahas sekilas mengenai gejala dan suasana yang menyolok dalam kehidupan persekutuan gereja.   

Sewaktu saya menyebut kata kota, tentu saja yang dimaksud adalah daerah perkotaan. Sebelum ada pertanyaan, apa yang harus kita lihat, tentu saja yang mesti dilakukan adalah melihat diri kita sendiri dan sekeliling. Dengan demikian kita tahu dan mampu melakukan sesuatu berdasarkan penglihatan tersebut.

Kota dan Agama

Kota di Indonesia bukan dibangun berdasarkan konsep ”kota agama”. Di bumi ini hanya terdapat beberapa kota yang dibangun berdasarkan konsep ”agama”. Kota yang dibentuk berdasarkan konsep dan kontrol agama antara lain adalah Vatikan dan  Madinah. Disampping itu pada masa kini masih kita jumpai Yerusalem juga diwarnai konsep agama yang ingin diaktualisasikan dalam bangunan dan ruang kota.

Pada kitab perjanjian lama disebutkan juga kota babilonia. Kevin Lynch, seorang ahli perkotaan yang menulis Good City Form, menyebutkan bahwa kota Babilon dibangun dan didominasi oleh Kuil Marduk, sebagai kota Dewa, kota ini telah ada pada tahun 600 sebelum masehi

Berbeda halnya pada masa pra Industri, pakar perkotaan Gideon Sjoberg mengatakan bahwa ”Karakteristik kota kuno itu sebagai pusat pemerintahan dan agama; di dalam berdiam para elit dan hanya tempat kedua bagi pusat perdagangan. Sjoberg menuliskan teori tersebut dalam bukunya ”Pra Industrial City”.

Salah satu yang sama pada tiap kota di Indonesia ialah hampir semua kota di Indonesia berkembang akibat mengikuti pola ”jalan”. Pengertian kata ”jalan” disini bermakna luas, jalan diartikan sebagai tanah yang beraspal, sungai yang membelah daratan, jembatan yang menghubungkan antar wilayah sampai danau yang membulat juga disebut sebagai ”jalan”.

Jakarta, Bandung, Bogor, Bekasi, Karawang  (JABABEKA)  dan Depok juga berkembang karena jalan darat.

Selain jalan darat dikenal juga ”jalan air”, beberapa kota yang berkembang mengikuti jalan kelok sungai misalnya Banjarmasin, Palembang dan Palangka Raya.

Banjarmasin misalnya mempropagandakan ”Kota Seribu Sungai  dan Seribu Mesjid” . Dalam kenyataannya mesjid di kota  itu telah melebihi seribu buah. Ratusan gedung mesjid berdiri megah di pinggir sungai dan pintu utama menghadap arus air.

Lain halnya kalau anda berkeliling kota dan desa di Kalimantan Tengah, anda akan melihat cukup banyak gedung gereja di pinggiran sungai. Kesemua pintu depan gereja tersebut menghadap arah sungai, secara sadar ataupun tidak, bangunan gereja itu mengartikan bahwa sungai adalah jalan yang menghubungkan antar manusia.

Sebagian kota sudah meluas dengan menuju daratan,sebagai contoh misalnya Jakarta, Bandung dan lain-lain. Di Jakarta jalan darat adalah  ”jantung” utama yang menghubungkan manusia. Warga kota tersebut berebut membangun rumah yang berlokasi persis di tepi jalan, demikian juga gedung gereja, nyaman rasanya kalau gedung tersebut tidak jauh dari jalan raya.

Pembahasan lengkap jalan dan kota telah lama dikupas oleh Mumford  dalam bukunya ”The City in History”  

Secara sekilas pada tulisan ini saya menyoroti tentang nilai kristen yang terpersonifikasi dalam diri Yesus, yang dalam kehidupan masyarakat tertampakkan (terekspresi) dalam wujud bangunan dan ornamen kota.

Yesus sebagai sosok yang inti dalam ajaran iman Kristen bukanlah bermaksud mendirikan sebuah negara di dunia apalagi membangun sebuah kota agama. Ia mengajak orang bertobat karena kerajaan Allah sudah dekat. Nilai-nilai yang dibawa Yesus itulah menjadi nilai-nilai Kristen,

Nilai-nilai Kristen mestinya menjadi inspirasi bagi hukum di masyarakat, patut diberi penekanan disini pada kata inspirasi agar pemaknaan nilai-nilai Kristen itu bukanlah diartikan sebagai hukum publik yang berlaku di kota.

Persaingan Gereja dan Negara

Seperti yang disebut di atas bahwa Yesus tidak berniat mendirikan sebuah negara dan bangsa, dengan demikian orang Kristen juga tidak berniat mendirikan negara Kristen.

Perlu dikemukakan juga bahwa Kristen memiliki pengalaman campur aduk antara negara dan agama (gereja), pada abad ke IV pada masa Kaisar konstatinus di Roma. Pada masa Kaisar ini gereja terinstitusi dan segala tata cara negara dan pemerintahan di Kristenkan. Selanjutnya norma-noma yang berkembang di Masyarakat juga ikut menjadi “Kristen”. Bahkan syariat Kristen diberlakukan dalam aturan publik. Sejarah mencatat bahwa masa gelap ini menimbulkan kerancuan dan kekalutan.

Setelah masa Konstatinus, terlihat bahwa gereja dan negara “bersaing” merebut kehidupan publik. Ada saatnya gereja menjadi “gereja negara”. Pada peristiwa ini negara mendominasi gereja. Dengan demikian negara berhak campur tangan dalam urusan gereja dan bergereja.

Situasi tersebut berlangsung sampai zaman pertengahan, namun pada masa aufklarung (pencerahan) kesalahan relasi antara gereja dengan negara  telah diperbaiki. Pendek kata dapat disebut disini bahwa negara-negara Demokrasi yang eksis di Eropa dan Amerika merupakan koreksi relasi dan negara. Singkat kata gereja (agama) dan Negara memisahkan diri secara tahap demi tahap.

Sampai tiba saatnya waktu itu Eropa berkembang masa “reformasi” melalui seorang tokoh yang bernama Martin Luther yang tidak segan-segan menuntut pemisahan antara negara dan agama.

Orang Kota Modern Mencari Gereja

Jakarta adalah Megacities menurut Janice Perlman, dan beberapa pakar menyebutnya Metropolis. Maksud dari penyebutan ini adalah menunjuk pada menyambungnya kota-kota menjadi kumpulan lebih besar, yang melibatkan jumlah penduduk yang fantastis, katakanlah 10 sampai 20 juta. (Lihat Marco Kusumawiaya)

Penduduk Jakarta berasal dari berbagai sukubangsa, tak mengherankan kebudayaan sukubangsa juga mewarnai corak kehidupan kota. Kebudayaan sukubangsa berpadu dengan kebudayaan kapitalisme kota yang modern.

Orang modern tidak lepas dari hasrat ”mencari dan pencarian” persekutuan yang nyaman, tenang dan religius. Berbeda dengan para petani yang orang desa, mereka merasa bahwa persekutuan(komunitas) telah mereka miliki dan merasa desa terlalu banyak memiliki persekutuan. Dapat dimaklumi kegiatan orang desa tidak sesibuk orang yang beraktivitas di kota.

Orang yang bermukim di Jakarta dari berbagai suku bangsa apapun dapat dipastikan bahwa mereka sangat membutuhkan rasa ber-komunitas (bersekutu)

Orang Kristen yang berada di Jakarta merasa bahwa persekutuan yang dicari-cari itu ada pada organisasi kegerejaan.

Dalam persekutuan gereja kota orang modern bukan hanya ”mencari” Tuhan melainkan juga membina interaksi antar manusia dalam warga jemaat.

Pada gereja yang memiliki identitas kesukubangsaan terlihat jelas bahwa fungsi gereja juga membina dan melestarikan kebudayaan.

Ikatan kesukubangsaan mewarnai corak bergereja orang modern, rasa persaudaraan bergereja itu makin tumbuh manakala hari raya gereja tiba. Disampin itu rasa persaudaraan gereja juga makin berkembang sewaktu kelahiran maupun kematian salah satu warga jemaat.

Singkat kata dapat kita katakan ”Sepanjang manusia terus mencari persekutuan, dapat dipastikan kehadiran gereja selalu menjadi hal yang penting dalam kehidupan orang Kristen”.
 
Orang-orang di perkotaan beraktivitas di perjalanan lebih banyak ketimbang orang-orng yang berada di perdesaan. Orang muda yang hidup dikota Jakarta lebih banyak menggunakan mobil, kereta api dan bus. Alat transportasi itu mereka gunakan untuk berbagai hal mulai dari berangkat ke tempat kerja, rekreasi dan lain-lain. Singkat kata, orang kata banyak menghabiskan waktu diperjalanan.

Orang yang satu menjadi lebih akrab dengan orang lain yang mungkin bermukim 20 kilomeer dari dirinya daripada dengan tetangga sebelah rumah.

Kota membuat ikatan bertetangga menjadi berbeda. Sudah jamak kita mendengar orang kota juga makin individualis. Berkaitan dengan itu seringkali orang membandingkan kota dengan desa yang hidup bertetangga secara akrab.

Gereja-gereja yang memiliki solidaritas sukubangsa yang kuat, biasanya, memiliki anggota jemaat gereja yang setia dengan organisasi gereja.

Sewaktu hari minggu pada saat kebaktian, mereka yang bermukim jauh dari gedung gereja sukunya, akan berupaya sembahyang pada gereja tersebut meskipun ia menempuh perjalanan puluhan kilometer, sekalipun sungguh melelahkan perjalanan tersebut.

Namun bagi orang muda yang mementingkan kepraktisan, Ia tidak mau berlelah menempuh sekian kilometer untuk bersembahyang pada organisasi gereja sukubangsanya.  Orang muda tersebut satu dua kali beribadah di gedung gereja yang paling dekat dengan rumah dimana ia tinggal bermukim. Teman saya mengkategorikan orang seperti ini bertipe GKJ (Gereja Kristen Jalan-jalan)

Tulisan ini tidak ingin mengulas lebih dalam lagi mengenai corak orang kota modern bergereja (bersekutu), namun saya menyimpulkan untuk sementara bahwa ”Jakarta Bukanlah Kota Agama”

Cisarua, 6 juni 2008

Comments
Add New Search
wow gold  - warcraft Power Leveling     |123.145.176.xxx |2010-01-20 19:25:51
One evening wow gold a man was wow cdkeys at home watching TV and eating peanuts.pet clothes He'd toss them in the air, then catch them RuneScape Gold in his mouth. In the middle wedding dresses of catching one, Eve isk his wife asked wow power leveling a question, maple story mesos and as he turned to answer her,flyff penya a peanut fell in his ear. He tried and tried maple story power leveling to dig it out but only world of warcraft gold succeeded in pushing cheap wow gold it in deeper pet clothingHe asked his wife for assistanceffxi gil and after hours of trying they flyff penya became worried and decided to go to hospital. As they were ready 2moons power leveling to go out the door, archlord power leveling their daughter archlord gold came home last chaos money with her date.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Counter

Members : 3
Content : 19
Content View Hits : 20696

Poling

Bagaimana pendapat Anda tentang gerakan Oikoumene



Results

Masalah pemuda apa yang harus segera ditangani ?




Results