Pemuda Gereja dan Perhatiannya pada Pokok Persoalan HIV dan AIDS

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

 

Kelompok yang paling rentan tekena HIV dan AIDS adalah orang muda usia 15 – 24 tahun, lebih spesifik lagi perempuan muda. Berhubung gereja banyak beranggotakan warga gereja yang berusia muda, maka satu hal mendasar yang mesti dilakukan yaitu memberikan informasi dan  pesan tentang menangani HIV dan AIDS kepada pemuda dan pemudi gereja, terutama lagi sebaiknya pemuda gereja mempelopori upaya menghilangkan stigma terhadap ODHA.

Maksud tulisan ini bukan memaparkan kondisi kesehatan pemuda gereja, berapa jumlah yang sakit dan sebagainya melainkan ingin menelaah perhatian pemuda gereja pada topik dan pokok persoalan seputar HIV dan AIDS.

 

Sebelum mengulas lebih jauh tentang pemuda dan HIV AIDS, ada baiknya saya perlu sampaikan bahwa hasil survey terbaru Departemen Pemuda dan Remaja PGI bekerjasama dengan POKJA HIV AIDS UKI pada 2007 lalu mudah-mudahan menceritakan sekilas pemahaman orang muda (baca SMU Kristen di Jakarta).

Kesimpulan dari survey itu menuliskan bahwa Komunikasi, Informasi dan Edukasi  mengenai HIV AIDS untuk pemuda remaja kristen masih sangat kurang.

 

Pelayanan Kategorial Pemuda Gereja Kurang Berminat Menangani Masalah HIV AIDS

 

Masalah HIV Aids tak akan mungkin ditangani secara benar dan tuntas oleh sebuah unit/departemen/biro/seksi pemuda gereja. Masalah HIV AIDS jauh lebih besar dari kemampuan organisasi pemuda gereja. Masalah AIDS dan HIV bagaikan badai yang menyerang pemuda tanpa ampun.

Lagipula, keberadaan (eksistensi) pemuda dalam gereja belum memiliki posisi tawar yang mantap. Bahkan dalam benak para pemimpin gereja terselip pemikiran bahwa kategorial pelayananan pemuda  masih dianggap sebagai “beban” bukan sebagai berkat. Tak mengherankan pelayanan pemuda merupakan sekedar ornament pelengkap gereja-gereja saja.  

 

Oleh karena itu kalau kita mengharapkan pemuda agar mampu menangani  dan mengatasi HIV AIDS?” nampaknya harapan itu masih terlalu berlebihan mengingat pemuda gereja lebih tertarik pada persoalan yang tidak berhubungan dengan soal HIV dan AIDS.

 

Organisasi pelayanan kategorial pemuda gereja di Indonesia tampaknya masih gagap menangani persoalan HIV AIDS. Bukan maksud tulisan ini ingin membangun pesimisme, namun realita memperlihatkan bahwa pemuda gereja bergumul dengan hal-hal yang masih berkutat pada pengorganisasian dan ritual kegerejaan. Kita mesti mencari alternatif yang kreatif untuk mengembangkan kemampuan pemuda gereja.

 

Pemuda gereja yang saya maksud disini adalah warga jemaat gereja yang dikategorikan sebagai anggota gereja.  Pemuda gereja bukan hanya dipahami sebagai individu yang berusia muda melainkan juga terkadang dipandang sebagai tataran kelembagaan pelayanan pemuda.

 

Pada beberapa gereja anggota PGI, terlihat bahwa pada struktur aras sinodal belum banyak gereja yang mempercayakan pemuda menempati struktur pengambilan keputusan. Hal ini sungguh memprihatinkan, padahal masa depan gereja tergambar dari eksistensi pemuda pada saat sekarang. Secara struktural saja pemuda tidak dianggap penting apalagi hal-hal yang berkaitan dengan fungsional.

 

Walaupun sebagian pemuda itu sendiri tahu bahwa perempuan muda lebih rentan terkena virus HIV ketimbang pemuda yang laki-laki. Hal ini terjadi karena secara biologis perempuan memang menerima semprotan sperma melalui virus dari laki-laki muda. Laki-laki muda lebih berkesempatan menularkan virus kepada perempuan ketimbang sebaliknya.

Sekalipun angka pengidap HIV dan AIDS pada kalangan pemuda makin tinggi, tidak serta merta membuat organisasi pemuda berjerih payah mengatasi HIV AIDS.

Tantangan bagi kita saat ini adalah memacu orang muda agar memberi perhatian pada topik HIV Aids, sembari itu para pemimpin gereja juga mesti membina komunikasi yang baik dengan para pemuda.

Kenapa pemuda gereja kurang menyukai topik seputar penanganan HIV AIDS? Jawaban atas pertanyaan ini tentu saja bermacam-macam, tergantung pada gereja mana, gereja aliran apa,

Selain itu informasi yang benar dan lengkap tentang HIV dan AIDS jarang didapat dari gereja. Nampaknya orang muda terutama yang menempuh pendidikan SMP dan SMU mendapatkan info AIDS dari organisasi yang bukan berkaitan dengan gereja.

 

Aktivis – aktivis muda pegiat, pemerhati dan motivator bagi penanganan HIV AIDS pada dasarnya bukan berasal dari aktivis pemuda gereja.

Kalaupun ada pemuda gereja yang tekun dan bergiat pada lapangan pelayann ODHA, si pemuda ini mendapatkan pengetahuan bukan dari institusi gereja, melainkan lebih banyak dari LSM dan organisasi sosial lainnya. Padahal kondisi ideal mestinya para pemuda gereja mendapat informasi HIV dan AIDS dari pihak unit/pengurus pemuda gereja itu sendiri.

 

Pemuda Gereja Perkotaan dan Perdesaan serta Pemahamnya tentang HIV AIDS

 

Bermacam ragam karakter orang muda yang bergereja, hanya satu hal yang menyamakan orang muda antara satu dengan yang lain adalah usia mereka yang sama. Gereja di Indonesia yang menjadi anggota PGI juga bermacam ragamnya. Sejarah gereja di Indonesia penuh dengan catatan yang dinamis, Saat ini terdapat kurang lebih 13 aliran gereja yang muncul dari rumpun Protestan (lihat, “Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar Gereja”, karangan Pdt. Dr. Jan S. Aritonang).

Sementara itu Departemen Agama RI menyebutkan ada 15 aliran di Indonesia [Calvin, Lutheran, Gereformerd, Herform, Reform, Metodis, Baptis, Pentakosta, Adventis, Anglikan, Evangelikal (Injili), Menonait (Moria), Bala Keselamatan, Mormon (Orang-orang suci zaman akhir), Christian Science, Orthodox Syria] dan 9 kelompok [PGI, PGPI, PGLII, PBI, AGHK, BK, Orthodox, PG Tionghoa, Gereja Mandiri (independen)

 

Gereja-gereja tersebut mengembangkan pelayanannya di kota maupun desa di Indonesia. Sewaktu saya menyebut kata kota, tentu saja yang dimaksud adalah daerah perkotaan.  Kerapkali untuk membedakan secara tegas antara desa dan kota adalah sejauhmana fokus kegiatan sebuah daerah pada sektor pertanian. Biasanya kota menyolok dengan kegiatan industri, pabrik, kegiatan jasa dan ekonomi dengan perputaran yang tinggi. Sedangkan kegiatan di perdesaan biasanya masih begerak pada sektor agribisnis pertanian.

 

Orang-orang muda di perkotaan beraktivitas di perjalanan lebih lama ketimbang orang-orang yang berada di perdesaan. Orang muda yang hidup di kota Jakarta lebih banyak menggunakan mobil, kereta api dan bus. Alat transportasi itu mereka gunakan untuk berbagai hal mulai dari berangkat ke tempat kerja, rekreasi, ke gereja  dan lain-lain. Singkat kata, orang kota banyak menghabiskan waktu diperjalanan.

Orang yang satu menjadi lebih akrab dengan orang lain yang mungkin bermukim 20 kilometer dari dirinya daripada dengan tetangga sebelah rumah.

Kota membuat ikatan bertetangga menjadi berbeda. Sudah jamak kita mendengar orang kota juga makin individualis. Berkaitan dengan itu seringkali orang membandingkan kota dengan desa yang hidup bertetangga secara akrab.

 

Kevin Lynch, seorang ahli perkotaan yang menulis buku Good City Form,menyimpulkan bahwa kehidupan seks di kota lebih menyolok , sedangkan di desa kehidupan seks lebih tertutup dan cenderung dianggap tabu

 

Pemuda di perkotaan cenderung mendapat informasi tentang seks pada usia yang lebih dini ketimbang pemuda yang tinggal di desa.  Salah satu hal yang membuat kehidupan kota Indonesia lebih semarak dengan seks adalah tempat hiburan yang menjamur.

Runyamnya perdesaan juga ikut-ikutan dengan pola hidup di perkotaan, desa –desa di Indonesia sudah mulai menjamur dengan pusat hiburan semacam playstation dan permainan bilyar.

 

Jangan mengira para pemuda gereja hanya mengobrol tentang pelajaran sekolah dan kampus saja atau hal-hal yang baik saja. Pemuda gereja juga manusia, mereka juga sesekali mengobrol tentang seks. Pengaruh media di perkotaan lebih dahsyat ketimbang teman mereka yang di desa. Media elektronik yang tanpa henti mempengaruhi “mindset” kaum muda. Tidak sedikit anak muda terbawa gaya “game boy” playstation, xbox dll. Sekarang hal-hal yang negatif seperti pornografi sangat mudah diakses melalui handphone.

 

Kesempatan orang muda untuk plesir ke bar, diskotik, panti pijat dan jasa seksual lebih mudah aksesnya di kota ketimbang di desa. Kaum muda yang sedang mencari jati diri sangat rentan terbawa arus gaya kaum kota yang hidupnya dominan dalam budaya Kapitalisme.

 

Ideologi kapitalisme juga menyeruak dalam kehidupan pemikiran kaum muda. Pemuda gereja juga memiliki konsep yang keliru mengenai Konsep Kejantanan. Laki-laki yang macho adalah mereka yang merokok, peminum bir,  dll. Iklan produk sangat berperan membentuk pola pikir kaum muda. Contohnya seperti Ekspresikan Aksimu, Buktikan Merahmu dan Pria punya Selera dan lain-lain. Orang muda yang aktif  datang ke gereja pada hari minggu juga tak luput dari serangan iklan.

 

Di wilayah perkotaan sangat sulit ditemui ruang publik yang nyaman bagi para pemuda berinteraksi, kalaupun ruang itu ada, biasanya juga dipenuhi oleh televisi dan papan elektronik yang berisi iklan. Pada masa globalisasi ini nampaknya peran barang elektronik berperan sangat penting, pada televisi ruang publik pun kita melihat bahwa bujukan iklan tentang persepsi jantan dan cantik bagi kaum muda.

 

Adalah fakta yang tak terbantahkan juga bahwa pemuda gereja masih sibuk dengan dirinya sendiri. Belum begitu banyak ia menaruh perhatian pada geng motor, anak jalanan, underground dll yang berada di sekitar lingkungannya. Organisasi pelayanan pemuda gereja seakan sibuk mendandani penampilan dirinya sendiri.

 

Pemahaman orang muda kristen (baca: aktivis pemuda gereja) tentang HIV AIDS dapat kita kategorikan paling tidak ke dalam tiga golongan.

Yang pertama adalah golongan pemuda gereja yang sangat tahu, kedua golongan pemuda  cukup tahu dan terakhir golongan ketiga yaitu pemuda yang tidak tahu tentang isu HIV dan AIDS.

 

Walaupun pengurus unit kategorial pemuda gereja sangat tahu tentang isu HIV dan AIDS belum tentu serta merta mereka menindaklanjutinya melalui program kongkret. Sudah umum bila yang mempengaruhi tindaklanjut tersebut adalah soal dana.

Salah satu persoalan penting dihadapi oleh pemuda gereja untuk menangani HIV AIDS adalah terhambat akibat dana.

Organisasi tersebut belum mandiri dalam dana atau dengan kata lain belum bebas finansial. Berkaitan dengan itu mayoritas unit kategorial pelayanan pemuda sangat bergantung dengan bantuan dan hibah dari berbagai pihak. Masalah ketergantungan dana dengan pihak lain bukan saja mengancam organisasi unit pemuda. Runyamnya pihak donor terkadang mampu mengemudikan arah organisasi tersebut. Akibat lainnya organisasi pemuda itu menjadi donor driven. Beruntung kalau donor menjanjikan hibah untuk program HIV AIDS, tetapi ketika donor menyediakan hibah untuk pendidikan kewargaan (civic education), lembaga pemuda yang sama mengubah programnya tidak lagi peduli pada HIV melainkan mendidik poltik kewargaan.

 

Pemuda Gereja bukan sekedar Vokal Grup Saja

 

Hampir semua gereja di Indonesia-- baik gereja kecil maupun gereja yang besar-- pasti memiliki vokal group.  Anda pasti tahu yang dimaksud vokal grup adalah sekelompok orang yang berolah suara dan dan memainkan alat musik. Personil vokal grup gereja tersebut umumnya beranggotakan orang muda. Minat kaum muda anggota warga gereja untuk menyanyi dalam vokal grup yang bertujuan memuji Tuhan adalah sesuatu yang baik dan patut  kita dukung.

 

Sangat disayangkan bila ada yang berpikir  bahwa kegiatan pemuda gereja berhenti pada vokal grup saja. Pemikiran seperti ini tentu saja mengecilkan eksistensi pemuda gereja. Pada beberapa gereja memang terlihat kegiatan pemuda gereja hanya berkisar pada Paduan Suara dan Vokal Group  serta kebaktian pemuda rutin saja. Sebagai tambahan kegiatan biasanya melaksanakan hari besar gereja seperti paskah, hari pemuda, natal dan reatret. Kalaupun ada kegiatan lainnya seperti seminar, diskusi, pidato, hiv dan aids dianggap hanya pelengkap saja.

Berdasarkan pengamatan dan setelah saya membaca puluhan jenis proposal yang dajukan oleh pemuda gereja. Saya melihat program yang digarap pemuda gereja di Indonesia antara lain meliputi Paduan suara, PA, kebaktian, PD, kadang-kadang Bakti sosial (karitatif sifatnya) pada masyarakat miskin kristen dan lintas agama, pelatihan ketrampilan kewirausahaan bagi pemuda Kristen, latihan olah raga intern pemuda Kristen, biro jodoh (secara eksplisit maupun implisit) dan sebagainya. 

 

Eksiskah pemuda kristen dalam gereja? Tidak ada keraguan lagi, bahwa pemuda kristen eksis dalam gereja, ke-existesi-anya diakui dalam gereja.

Kalau kita ingin lebih dalam mengupas tentang eksistensi pemuda berkiprah di gereja, saya mengutip pemikiran seorang pakar theologi dari GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan.

Dalam kongres GMKI tahun 1992 Wismoady seorang Theolog GKJW pernah mengatakan, “Mahasiswa/pemuda ‘just exist but not living’” 

Kalau merujuk pada teori theolog tersebut, dapat kita nyatakan bahwa ”pemuda hanya sekedar eksis tetapi tidak hidup dalam gereja.

Model Pelayanan dari Komite HIV AIDS Gereja dan LSM dapat dikembangkan untuk unit kategorial pelayanan Pemuda Gereja.

Bukannya tidak ada usaha nyata dari pemuda gereja untuk mencari dan memperbaiki pemahamannya mengenai masalah HIV AIDS. Konsultasi Nasional pertama Gereja dan AIDS pertama kali digagas dan disiapkan oleh pemuda.

Pemuda PGI sudah menempatkan dirinya untuk bekerja sebagai pelopor untuk menyuarakan agar pemimpin gereja (baca: sinode) memperhatikan isu AIDS dan membentuk komite pada gerejanya. Pemuda PGI sadar bahwa tidak cukup hanya melaporkan

 

Sekalipun pemuda menyadari di dalam dirinya banyak kekurangan namun semangat untuk berbuat sesuatu bagi penanganan HIV AIDS mesti diasah terus menerus.

Pengalaman keberhasilan Komite HIV AIDS Gereja GMIM, GKPS, HKBP dan lain-lain dapat dicontoh oleh unit pelayanan kategorial pemuda gereja.

LSM-LSM yang dapat jadi teladan kaum muda adalah Yayasan Pelita Ilmu, SPIRITIA, POKJA HIV AIDS UKI dll. 

 

Tugas kita bersama adalah merumuskan secara persis bagaimana hubungan komite-komite HIV dan AIDS itu dengan unit kategorial yang bukan pemuda saja melainkan kategorial anak, perempuan dan bapak.

Bagi kategorial pemuda yang gerejanya memiliki Komite HIV AIDS, tentu saja akan banyak menolong. Sedangkan bagi pemuda gereja yang belum punya Komite atau Pokja AIDS, mesti dipikirkan dan dilaksanakan upaya kepeloporan. Pemuda dalam hal ini mestinya bersikap menjadi pelopor dan bukan menjadi pelapor

 

Pencegahan HIV AIDS melalui pelayanan Kategorial pemuda gereja

 

Secara normatif tentu saja kesenjangan komunikasi antar generasi mesti dicari jalan penyelesaiannya. Usahakan komunikasi dengan pemimpin gereja (sinode) tidak menyudutkan dan tidak menyulitkan rencana program pemuda.

 

Organisasi pemuda mesti juga mendapat pelatihan tentang HIV AIDS dari institusi yang berkompeten. Penguatan strruktural organisasi pemuda– rekrutmen kader-kader yang mampu menjadi motivator bagi upaya menangani HIV AIDS, adalah sebuah keniscayaan.  

 

Terdapat banyak program yang dapat menjadi pilihan bagi unit pelayanan kategorial pemuda- dalam menangani HIV dan AIDS.

Upaya yang pertama dan sangat penting bagi pemuda gereja adalah Sosialisasi informasi yang benar tentang HIV dan AIDS. Menghilangkan stigma ODHA di kalangan pemuda gereja sendiri adalah program yang penting diperhatikan oleh pemuda.

Organisasi pemuda gereja, harus mengupayakan bagaimana mengubah prilaku orang muda yang konsumerisme, hedonis,  dll.

Sudah sering juga diinformasikan agar kategorial pemuda agar menguatkan jejaring. Jaringan kerja yang luas akan menambah dukungan untuk pemuda dari berbagai pihak . Sebenarnya cukup banyak juga unit kategorial pemuda yang melakukan seminar Kesehatan Reproduksi, diskusi Love Sex and Dating. Kegiatan tersebut nampaknya perlu mengikutsertakan berbagai pihak  seperti LSM, KOMITE AIDS dll

 

Agar organisasi pemuda gereja dapat memusatkan perhatian dan komitmen untuk menangani HIV dan AIDS mestinya organisasi pemuda gereja itu mendapat mandat dan anggaran dan kewenangan yang jelas dari gerejanya. Organisasi tersebut juga mesti mempunyai pendamping yang memahami HIV dan AIDS agar pelayanan organisasi makin berkelanjutan. 

Akhirnya, kalau mandat dari gereja dan anggaran belum diterima pemuda. Maka marilah kita berjuang.  Slamat Berjuang.

 

Terima kasih.

 

 

Prapat,  Danau  Toba, 13 Agustus 2008

 

 

Lampiran

HASIL STATISTIK KUESIONER  

PADA  TUJUH SEKOLAH KRISTEN JAKARTA.

 

 

Tabel I

Distribusi Responden Menurut Nama Sekolah Kristen

 

Nama Sekolah

 

Jumlah

Persent (%)

SMAK 5 Penabur

199

18,6

SMPK 3 PSKD

94

8,8

SMUK 2 PSKD

51

4,8

SMP Kalam Kudus

50

4,7

SMA Kalam Kudus

71

6,6

SMUK Yadika

245

22,9

SMUK kanaan

356

33,3

Total

1066

99,7

Missing system

3

0,3

Total

1069

100

 

Kesimpulan :

 

Dari tabel di atas ada 1069 responden remaja Kristen telah berpartisipasi dalam pengisian kuesioner mengenai HIV/ AIDS dari 7 sekolah Kristen. Baik laki – laki maupun perempuan.

 

 

Tabel II

Distibusi responden menurut jenis kelamin di 7 sekolah mengenai informasi tentang HIV/AIDS

 

Jenis Kelamin semua sekolah/ kuesioner

Total

OR (95 % CI)

Tingkat kepercayaan

P Velue

0,05

Melalui taman bacaan

724 (missing 345)

-

0,104

Melalui elektronik

723 (missing 346)

-

0,061

Penjelasan guru sekolah

722 (missing 3470

-

1,000

 

 

Kesimpulan :

 

Dari tabel di atas dapat dikatakan remaja Kristen dari 7 sekolah Kristen  yang diamati dari jenis kelamin tidak adanya hubungan/ masalah mengenai informasi yang didapat. Jadi rata – rata responden mengetahui informasi yang telah didapat baik dari buku bacaan, elektronik dan penjelasan guru sekolah. (nilai kurang dari 0,05).

 

 

Tabel III

Distribusi Mengenai Pengetahuan remaja Kristen mengenai

obat terlarang pada tujuh  sekolah Kristen

 

Informasi pengetahuan

Total

OR (95 % CI)

Tingkat Kepercayaan

P Velue

0,05

Informasi pernah menggunakan

973 (missing 96)

-

0,131

Informasi tentang bergantian jarum suntik

649 (missing 420)

-

0,151

 

 

 

 

 

Kesimpulan :

 

Dari tabel diatas dapat di simpulkan bahwa informasi mengenai pengetahuan remaja dilihat dari jenis kelamin pada 7 sekolah tersebut tidak adanya hubungan/ masalah mengenai pengetahuan obat – obatan terlarang. Artinya bahwa semua responden mengetahui/ memiliki pengetahuan mengenai obat – obat terlarang tersebut.

 

Tabel IV

Distribusi Mengenai cara penularan HIV/ AIDS

 

Informasi Cara Penularan HIV

Total

OR (95 % CI)

Tingkat kepercayaan

P Velue

0,05

Penularan jabat tangan

877 (missing 192)

-

0,322

Penularan melalui makanan

875 (missing 194)

-

0,951

Penularan melalui darah

875 (missing 194)

-

0,001

Penularan melalui air Mani

875 (missing 194)

 

0,006

Penularan melalui Vagina

870 (missing 199)

-

0,178

 

Kesimpulan :

 

Dari tabel di atas dapat dikatakan bahwa ada informasi yang masih belum dimengerti oleh para remaja mengenai cara penularan HIV/ AIDS. Antara lain informasi penularan melalui darah (0,001 < 0,05) dan informasi mengenai penularan air mani (0,006 < 0,05). Sedangkan penularan melalui jabat tangan, makanan dan  vagina dapat dikatakan mendapat informasi tersebut (mengerti).

 

Tabel V

Distribusi Mengenai Informasi cara menghindari penularan HIV/ AIDS

 

Informasi Cara Penularan HIV

Total

OR (95 % CI)

Tingkat kepercayaan

P Velue

0,05

Hindari jarum suntik bekas

944 (missing 125)

-

0,16

Tidak melakukan hub. Seks

941 (missing 128)

-

0,038

Tidak menggunakan benda tajam bekas HIV

941 (missing 128)

-

0,766

Menghindari tidak berbagi makanan dengan HIV

930 (missing 139)

-

0,153

 

 

-

 

 

Kesimpulan :

 

Dari hasil tabel diatas dapat dikatakan bahwa untuk menghidari cara penularan HIV dengan menghindari pemakaian jarum suntik bergantian, menggunakan benda tajam dan berbagi makanan dengan HIV tidak adanya perbedaan/ hubungan masalah. Akan tetapi untuk menghindari tidak melakukan hubungan seks bebas,  cukup mempunyai hubungan/ masalah potensialnya terjadi penularan HIV/ AIDS melalui hubungan seksual (0,038< 0,05).

 

 

Comments
Add New Search
esi  - Besok (8 Agustus 2009) Konser Piano Hee Ah Lee     |118.96.1.xxx |2009-08-07 22:50:36
Jangan lupa besok (8 Agustus 2009) konser piano Hee Ah Lee, pianis dengan 4 jari
dari Korea di Balai Kartini Jakarta. Dua kali pertunjukan: jam 14.30 WIB dan jam
19.00 WIB. Tiket box open mulai jam 10.00 WIB.
Selengkapnya kunjungi
:
http://heeah-lee.blogspot.com
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Counter

Members : 3
Content : 19
Content View Hits : 20698

Poling

Bagaimana pendapat Anda tentang gerakan Oikoumene



Results

Masalah pemuda apa yang harus segera ditangani ?




Results