PRPG-Pertemuan Raya Pemuda Gereja

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Written by Yanedi Jagau Wednesday, 30 September 2009 13:41

 

DI SUMARORONG KITA BERHARAP PADA PERTEMUAN RAYA PEMUDA GEREJA (PRPG)

Dimanakah Sumarorong ?

Sumarororong adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Mamasa, Propinsi Sulawesi Barat. Walaupun statusnya Kecamatan, nuansa yang terasa adalah pedesaan. Daerah ini dikenal sebagai tempat yang sejuk. Panorama alamnya dikelilingi oleh pohon pinus seputar perbukitan, pemandangan tersebut seakan tak hentinya memanjakan mata tiap orang melihatnya, Di Kecamatan inilah akan diselenggarakan perhelatan besar orang muda yaitu Pertemuan Raya Pemuda Gereja (PRPG).

PGI, melalui departemen pemuda dan Remaja akan menyelenggarakan PRPG pada 12-16 Oktober 2009. PRPG merupakan wahana bagi pemuda untuk membangun persekutuan oikoumenis. Di samping sebagai ajang pemuda berbagi pengalaman, pengetahuan, pergumulan dan keyakinannya dalam kehidupan di gereja, masyarakat dan bangsa, dalam PRPG juga tersedia kesempatan bagi pemuda untuk belajar menyiapkan diri sebagai pandu (baca: pelayan) pada Sidang Raya PGI.

Pertemuan Raya Pemuda Gereja (PRPG) dimaksudkan dan ditujukan untuk Menyamakan pemikiran mengenai permasalahan pelayanan pemuda Gereja. Mencari format dan model-model pelayanan dan perlindungan pemuda dan remaja gereja agar mampu menjawab tantangan masa kini. Peserta PRPG dipilah menjadi peserta aktif dan peserta peninjau, yang adalah laki-laki dan perempuan berusia 17-35 tahun yang mewakili masing-masing sinode gereja Gereja anggota PGI.

Masing-masing gereja diwakili 5 peserta Pemuda tingkat sinodal, jumlah keseluruhansinode yaitu 88 sinode, ditambah lagi undangan dari pemuda luar negeri seperti Christian Conference of Asia (CCA) dan World Christian Curch (WCC) diharapkan peserta dalam dan luar negeri keseluruhan berjumlah 600 orang.

Pemilihan Perwakilan Pemuda

Bentuk dan Isi Kegiatan PRPG dirancang sedemikian rupa dalam Study Meeting (diskusi dan ceramah), Penelaahan Alkitab, Bussines Meeting yang didalamnya juga termasuk persidangan pemuda. Utamanya PRPG juga memberikan kesempatan pelaporan Departemen Pemudan dan Remaja PGI (DEPERA PGI) dari Kinasih ke Mamasa.

Acara PRPG yang tak kalah penting yaitu pemilihan perwakilan pemuda untuk struktur MPH PGI (2 orang), Mitra Pemuda MPL PGI (5 orang) serta Sekretaris Eksekutif DEPERA PGI (1 orang)

Patut dicatat bagi sinode Gereja yang ingin mengajukan pemuda anggota gerejanya sebagai kandidat untuk mengisi perwakilan pemuda baik untuk posisi MPH PGI, Mitra Pemuda MPL maupun Sekretaris Eksekutif DEPERA PGI, agar menyiapkan rekomendasi khusus secara tertulis. Para kandidat mesti berusia 18-35 tahun yang mesti menuliskan visi dan misinya, apabila dirasa perlu persidangan PRPG dapat meminta para kandidat untuk menyampaikan visi dan missi secara langsung kepada forum sidang PRPG.

Pada pembukaan dan penutupan PRPG akan disemarakkan oleh penampilan kebudayaan setempat (GTM) dan kontingen sinode gereja anggota PGI.

Topik yang mengemuka dalam PRPG

PRPG membahas masalah terkini yang dihadapi pemuda dan remaja. Fakta menunjukkan bahwa gaya hidup dan sub-kultur pemuda berubah cepat, yang pada masa lalu dianggap tabu namun masa kini dianggap sesuatu yang lazim. Sudah lumrah pemuda perkotaan dan perdesaan bertanya kemana-mana tentang kencan, seks, narkoba, alkohol, busana, rambut, musik sekolah, universitas, gaya bahasa dan pekerjaan.

PRPG bukan lagi membahas pemuda dan remaja dari batasan umur semata. PRPG akan lebih banyak menyoroti masalah lebih mendalam tentang pemuda dalam sebuah konstruksi sosial dan budaya. Pemahaman tentang pemuda mesti merujuk ras, jender, kelas, umur, sikap dan “life style” yang menyatukannya. Pemahaman yang demikian diharapkan mampu menolong kita (PRPG) tidak lagi sibuk menggali tentang siapa pemuda gereja akan tetapi lebih banyak mengkaji tentang bagaimana pemuda menatalayani identitasnya.

 

Tak ketinggalan juga pada PRPG menyoroti topik pengaruh dan dampak globalisasi yang terasa sangat dahsyat bagi pemuda dan remaja. Globalisasi yang memacu penyatuan perdagangan dunia dan mencita-citakan penguatan ekonomi (kapitalisme), dalam wujud seperti itu terlihat seakan-akan globalisasi yang positif. Namun Globalisasi juga memberi dampak yang negatif secara langsung maupun tidak langsung seperti menguatnya pengangguran, narkoba, HIV/AIDS, terorisme, fundamentalisme, bencana alam, migrasi, perbudakan dan perang. Pertanyaan yang terus menerus menghinggapi benak kaum muda ialah “terbawa arus globalisasi ataukah melawan arus globalisasi?”. Mestinya pemuda memandang globalisasi bukan dalam pola berpikir salah dan benar, Berhubung permasalahan bukan pada globalisasi tetapi terletak pada cara orang muda mengatur dirinya. Pemuda merefleksikan eksistensinya dan berjuang mengurangi permasalahan sosial dan rasa sakit akibat pengaruh globalisasi.

Lingkungan hidup merupakan salah satu concern (perhatian) gereja yang tetap relevan. “Pemuda tidak perlu harus menjadi seorang Sekjen PBB untuk membawa perdamaian bagi dunia, pemuda yang biasa-biasa saja pun bisa membawa perdamaian”

Dalam hal menyelamatkan lingkungan juga berlaku rumusan “Tidak perlu menjadi pakar lingkungan untuk menjadi penyelamat lingkungan, pemuda gereja pun bisa” Orang muda dengan karakter yang merdeka, berani dan tulus tentu saja sangat mampu menggerakkan jejaring yang luas untuk bertanggung jawab memulihkan kerusakan lingkungan sekitar. Pemuda tidak perlu menunggu gempa banjir dan tsunami baru kemudian sadar menjaga keutuhan ciptaan.

Berharap Pada PRPG untuk Merefleksikan Kebaikan Allah

Kemanakah pemuda mengkonsultasikan dan mencari jawab tentang keresahan dan permasalahan sebagaimana tergambar di atas. Masihkah gereja menjadi komuniti orang percaya yang mampu memberikan jawaban. Sayangnya gereja, dengan perangkat komisi, biro serta departemen pemuda dan remaja belum mampu menjawab semua pertanyaan tersebut.

Oleh karena itu melalui PRPG sebagai wadah berbagi pengalaman dan visi, diharapkan dapat merumuskan semacam sacred canopy atau payung teologi sosial, ekonomi, politik dan budaya sebagai paradigma kepemudaan menanggapi tantangan zaman, sembari berkontemplasi dan merayakan kebaikan Allah sebagaimana Tema Sidang Raya PGI yang berbunyi Tuhan itu Baik kepada semua orang (Mazmur 145:9). PRPG diharapkan memiliki daya gugah bagi semua orang terlebih bagi pemuda gereja.

 

 

Agama Kristen Menumbuh-kembangkan Nasionalisme di Indonesia

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Written by Yanedi Jagau Saturday, 19 July 2008 15:15

Agama Kristen Menumbuhkembangkan Nasionalisme di Indonesia[1]
 
Oleh : Yanedi Jagau[2]
 
Panitia  meminta PGI menulis mengenai “Mengkaji Ulang Peran dan Fungsi Organisasi keagamaan (ke-Umatan) dan Lembaga Pendidikan dalam menumbuhkembangkan Jiwa Nasionalisme Kebangsaan sejak dini”.
Meskipun judul tersebut panjang dan luas, saya tetap mematuhi substansi judul yang disodorkan oleh panitia, namun saya memendekan judul tersebut menjadi “Agama (Kristen menumbuhkembangkan Nasionalisme di Indonesia”

Read more: Agama Kristen Menumbuh-kembangkan Nasionalisme di Indonesia

   

Pendidikan Politik untuk Kaum Muda di Kalimantan Tengah

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Written by Yanedi Jagau Sunday, 13 January 2008 00:00

Saya menyederhanakan tulisan ini dengan Judul Pendidikan Politik untuk Kaum Muda. Agak berbeda dengan judul yang diberikan oleh Panitia yang berjudul Membangun pendidikan politik bagi masyarakat Kalteng dalam menghadapi pilkada 2008 yang bersih berwibawa dan demokratis guna menghasilkan pemimpin daerah yang ideal. 

Read more: Pendidikan Politik untuk Kaum Muda di Kalimantan Tengah

   

Counter

Members : 3
Content : 19
Content View Hits : 20699

Poling

Bagaimana pendapat Anda tentang gerakan Oikoumene



Results

Masalah pemuda apa yang harus segera ditangani ?




Results