Written by Yanedi Jagau
Monday, 21 July 2008 14:21



Catatan dan Pengalaman sewaktu berkiprah pada Gerakan Mahasiswa dan organisasi Pemuda Gereja
Pembuka Kata
Gerakan Mahasiswa pada masa sekarang beragam corak identitas dan model perjuangannya. Kemudian orang-orang pun bertanya tentang Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Kristen. Dalam tulisan kali ini saya ditugaskan untuk menulis dengan melihat serta mencari kemana arah gerakan mahasiswa dan pemuda Kristen belakangan ini (baca tahun 2000 an ke atas). Saya memanfaatkan pengalaman yang saya rasakan serta pengetahuan yang saya dapat sewaktu menjadi anggota organisasi pemuda dan mahasiswa Kristen, semoga saja hal itu mampu menjelaskan pergumulan dan “peta” pelayanan orang muda Kristen.
Corak kegiatan Mahasiswa Kristen Indonesia pada prinsipnya sama dengan mahasiswa yang berlabel agama lainnya. Meskipun demikian saya juga akan menunjukkan ciri khas identitas organisasi mahasiswa Kristen dan pemuda Kristen yang saya ikuti dan amati selama ini.
Lika – Liku Aktivis Mahasiswa Kristen
Kegiatan Mahasiswa yang rutin adalah berangkat dari rumah/kos menuju kampus mendengar ajaran dosen. dan pulang kembali ke rumah untuk istirahat.
Mahasiswa yang “berdarah” aktivis memang agak berbeda dari yang lainnya. Ia memiliki variasi kegiatan yang lebih banyak. Kegiatan diskusi di kampus, mengikuti organisasi kemahasiswaan, persekutuan gereja dalam dan luar kampus serta setumpuk kegiatan lainnya.
Hal yang mendorong seorang mahasiswa menempuh kuliah kemudian menambah macam-macam kegiatan rupanya dipengaruhi oleh soal selera. Kalau kita ingin menghitung berapa jumlah orang yang termasuk golongan aktivis, ternyata yang tidak aktivis justru jumlahnya lebih banyak.
Artinya tidak semua orang mau jadi aktivis. Dalam benak saya tertanam pengertian bahwa mereka yang disebut aktivis adalah orang-orang yang gemar berorganisasi dan berjuang di masyarakat dan kemahasiswaan
Mahasiswa yang beragama kristen jarang mau jadi aktivis karena repot dan melelahkan. Lantaran itulah mahasiswa harus berpikir berkali-kali sewaktu memantapkan niat “terjun” dalam dunia aktivis. Seseorang yang diberi gelar aktivis, bukan berarti sebagai orang yang disukai dalam semua kelompok mahasiswa. Saya melihat banyak juga mahasiswa dijauhi oleh teman-teman sekelompoknya, namun tidak sedikit mahasiswa yang disukai lantaran predikat aktivis tadi. Pada saatnya nanti tulisan ini juga akan menyoroti motivasi para aktivis mahasiswa Kristen.
Pada tahun 1998 sampai 2008 ini sering dijumpai para aktivis pemuda gereja mengikuti gerakan ini gerakan itu dan lain-lain. Saya akan mengajak kita lebih banyak melihat secara mendalam seluk beluk kegiatan aktivis mahasiswa Kristen.
Sebut saja organisasi yang menggunakan label Kristen yang meliputi GMKI, Perkantas, LPMI. Ketiga organisasi tersebut sudah dikenal oleh orang Kristen sebagai organisasi yang bercorak kemahasiswaan. Tidak kalah terkenal yaitu organisasi yang berkaitan dengan pemuda, diantaranya adalah GAMKI, adapun halnya pemuda gereja yang menetap pada jemaat,distrik, resort, dan lain-lain biasanya berafiliasi dengan pemuda sinode pusat gerejanya.
Perkenalan dengan LPMI,
Saya mulai kenal dengan organisasi Mahasiswa Kristen pada tahun 1992. Saya disodori buku kecil Empat Hukum Rohani oleh pengurus LPMI Palangka Raya. Saya ingat buku tersebut warna kuning, ukurannya kecil sama seperti kertas folio dibagi menjadi empat bagian. Melalui buku Empat Hukum Rohani inilah saya diberikan pemahaman untuk tidak menyebutnya sebagai “doktrin”, Kakak Pembina saya berbusa-busa mulutnya menjelaskan isi buku kecil kuning tersebut. Jangan anda keliru, meskipun saya kurang tertarik dengan buku tersebut namun saya sangat hormat dengan kakak Pembina LPMI. Melalui mereka inilah saya agak sedikit terbuka dengan “penginjilan” untuk mahasiswa, saya pun aktif membantu tim Film Yesus yang dibentuk LPMI. Saya hanya kebagian mengangkat roll film proyektor yang berat itu. Film tersebut kami tayangkan pada layar tancap yang sering dipertontonkan di lapangan bola dan sesekali ditayangkan di gereja. Pada beberapa kesempatan selain Filem Yesus, kami juga menyelipkan film tentang Keluarga Berencana, bahkan kerjasama dengan BKKBN pun kami lakukan, masyarakat memiliki tambahan judul Film, saya lupa judulnya yang pasti filem itu buatan Indonesia, bercerita tentang Pendekar, mirip-mirip film si Buta dari Gua Hantu.
Gara-gara ikut tim film LPMI inilah saya mulai tahu kondisi masyarakat kita saat itu. Rupa-rupanya masyarakat tidak suka ceramah yang panjang, mereka ingin yang dahsyat seperti filem yang cepat dicerna dan aktor jagoannya ketahuan dari awal.
Untung saja kuliah saya lancar-lancar saja, tempat kuliahku di Universitas Palangka raya (UNPAR) jurusan Managemen pada Fakultas Ekonomi. LPMI tidak terlalu ngotot merekrut mahasiswa kampus, bagi saya yang lagi bersemangat 45 tentu saja agak heran kenapa kampus tidak terlalu dilirik, belakangan saya tahu bahwa LPMI agak melebar pelayanannya bagi masyarakat di Pedalaman Kalimantan. Saya salut dengan mereka yang tergabung dalam tim filem yang rela naik perahu mengarungi sungai Kalimantan yang berarus deras dan dalam.
Berkiprah di GMKI dan Pemuda Gereja
Pada kemudian hari saya diajak ikut menjadi anggota GMKI yang kebetulan waktu itu sedang gencar merekrut anggota baru. Saya pun “dibaptis” menjadi anggota GMKI Palangka Raya Komisariat Ekonomi. Istilah dibaptis sengaja dikemukakan disini supaya ada penegasan, memang pada upacara pembaptisan ini lebih tepatnya peneguhan menjadi anggota GMKI. Anak-anak yang tergabung di GMKI beragam tingkah polahnya. Mahasiswa yang merokok dan peminum alcohol juga bergabung di GMKI. Awalnya saya terkejut dengan orang-orang di GMKI, maklum saja saya dikenakan cap “lahir baru” lantaran masuk LPMI.
Saya diberikan buku Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga GMKI, buku ini agak lebih kecil dari buku empat hukum rohani LPMI, namun buku GMKI ini lebih tebal dan tidak dipenuhi ayat alkitab. Buku LPMI Empat Hukum Rohani lebih banyak bicara tentang Keselamatan dan pentingnya Iman Kristen. Sementara Buku AD/ART GMKI banyak menyoroti Pengorganisasian dan Nilai Kristen dalam sebuah Organisasi, ada juga ayat penegas dalam AD/ART GMKI, yaitu Yohanes 17:21. Pada teks Yohanes itulah saya menemukan inti gerakan oikoumene (baca: keesaan gereja)
Buku Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ini mudah dibawa dan berbentuk buku saku, tak heran kemanapun saya pergi buku ini selalu menemani.
Dalam buku AD/ART GMKI inilah saya menemukan tulisan tentang Konsep ideal mahasiswa maupun pemuda Kristen yang dirumuskan dalam mantra-mantra “tripanji GMKI” yang menuliskan Tinggi Iman, Tinggi Ilmu dan Tinggi Pengabdian[1].
Kata-kata mantra inilah yang tergiang terus dalam benak saya. Bagaimana rupanya orang yang tinggi iman, ilmu dan pengabdian itu?
Singkat Cerita saya pun ikut dalam dinamika ber-GMKI, saya melihat orang GMKI gemar berbicara politik namun pengetahuan mereka tentang politik sangatlah minim. Saya pun ikut-ikutan bicara politik, terkadang ngawur. Untung saja ada seorang senior GMKI yang memiliki wawasan luas mengajarkan kepada kami yang polos itu agar mengkaji politik tidak “asbun”. Menurut dia (senior GMKI), sebaiknya melihat politik dalam konteks alkitab orang Kristen. Maka diajaknyalah kami penelaahan alkitab (PA) yang ada kaitannya dengan konteks politik.
Bagi para mahasiswa yang merokok dipersilakan ikut PA, tetapi tidak boleh merokok sewaktu diskusi alkitab berlangsung. Ternyata PA mampu memancing rasa ingin tahu kami. Kami anggota GMKI sesekali mempraktekan pengetahuan alkitab kami yang minim itu dalam dinamika di GMKI. Suasana di GMKI agak berbeda dengan LPMI, masing-masing organisasi ini punya kelebihan.
Khusus di GMKI saya mendapatkan teknik memimpin rapat, memimpin PA, memoderatori diskusi dan lain-lain.
Sementara di LPMI saya mendapatkan teknik memimpin kebaktian mahasiswa, teknik memimpin lagu dan bagaimana mengajak orang awam mendiskusikan empat hukum rohani.
Sampai disitu, ternyata Tuhan itu sangat baik bagi semua orang, terutama kepada saya juga, walaupun saya kurang banyak baca buku, namun kuliah lancar-lancar saja. Meskipun demikian orang tua saya, terutama Ibu sering marah-marah karena saya terlalu aktip di GMKI. Menurut dia GMKI itu tidak jelas tujuannya. Karena bakat saya memang bandel, saya tidak terlalu menggubris omongan ibu.
Cukup sering saya tertidur dan begadang di kantor GMKI, Sekretariat GMKI terbuka dua puluh empat jam. PA yang kami geluti makin hari makin menarik saja. Kami membahas tentang Lingkungan Hidup menurut pandangan orang Kristen. Ujung-ujungnya kami menolak Proyek satu hektar lahan gambut 1995 di Kalimantan Tengah. Kami membuat statement resmi, padahal saat itu belum ada yang berani menentang proyek Presiden Suharto. Kami aak takut juga berbeda dengan pemerintah saat itu. Gereja Kalimantan Evangelis ikut-ikutan mendukung proyek sejuta lahan untuk padi, akhirnya proyek itupun gagal dan mnimbulkan kerusakan alam yang sangat dahsyat. Kebakaran hutan 1997 di Kalimantan merupakan salah satu akibat penggundulan hutan proyek sejuta hektara lahan itu.
Berkiprah dalam Pemuda Gereja di Kalimantan
Saya juga aktip dalam kepengurusan pemuda gereja GKE (Gereja Kalimantan Evangelis), kami menyebutnya SPP (Seksi Pelayanan Pemuda). Melalui SPP GKE inilah saya mengorganisir panitia natal, paduan suara, panitia paskah dan panitia paduan suara. Tentu saja masa muda itu indah dan tidak indah, Saya mulai kenalan dengan gadis-gadis pemudi gereja. Tentu saja masih malu-malu, maklum tampang pas-pasan, tidak flamboyant dalam bergaul. Gara-gara wajah yang kurang mendukung inilah saya belajar memendam perasaan cinta dalam hati. Teman-teman pun mengkritik saya sebagai orang yang “cinta dalam hati putus pun dalam hati”. Ah, saya tak mau larut dalam romantisme masa muda itu. Suatu hari kami dikritik karena tampil kurang bagus (baca:suara koor sumbang) sewaktu menyanyi di gereja. Saya termasuk orang yang kecewa dengan para pengkritik. Tetapi kritik tersebut saya dapat lupakan dengan cepat, namun kritikan yang paling mengganggu saya adalah “Pemuda Gereja Hanya sekedar paduan suara saja, tak lebih dari itu”
Menurut beberapa orang pengkritik yang ekstrim, mereka mengatakan pemuda hanya bicara “perlukah gitar, piano dan gendang dalam kebaktian pemuda”
Saya merasa ada benarnya kritik tersebut, memang saya sadari bahwa pemuda gereja kurang berminat dengan masalah sosial seperti Demokrasi, Oikoumene, Keadilan, Perdamaian dan lain-lain. Kurangnya minat itu bukan karena pemuda gereja tidak peduli melainkan “atmosfer” gereja yang tidak memberi pembinaan dan ruang untuk pemuda beraktualisasi dalam bidang yang disebutkan tadi.
Eksistensi Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Saat Ini
Singkat cerita saya pun akhirnya “terdampar” di Jakarta. Setelah bekerja mendirikan LSM Lingkungan Hidup, saya coba-coba melanjutkan kuliah pada Universitas Indonesia. Pada tahun 2002 saya bekerja dan kuliah. Kerja serabutan memang merepotkan, selain itu kuliah juga lumayan amburadul. Namun saya mulai rajin baca buku. Seorang senior di GMKI mengatakan “Kamu harus membaca sedikitnya dua buku setiap hari” belakangan setelah saya praktekkan saran tersebut, saya baru sadar rupanya membaca buku itu berguna sekali dalam kehidupan sehari-hari.
Di universitas Indonesia saya tidak menemukan aktivitas GMKI yang meriah, saya hanya menemukan dua tiga orang yang ber GMKI aktip.
Setiap hari Jumat saya melihat beberapa persekutuan mahasiswa Kristen melakukan kebaktian singkat di emperan depan ruang kuliah Fakultas Ekonomi Salemba. Seorang teman saya yang aktip dalam Himpunan Mahasiswa Islam mengatakan dengan berbisik “Persekutuan Mahasiswa Kristen tersebut sering diusir karena terkadang lagu rohani mereka mengganggu mahasiswa lainnya” saya pun mengangguk-angguk saja pura-pura tidak tahu.
Pada lain kesempatan teman saya yang orang HMI itu juga resah dengan pergerakan anak-anak KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Islam Indonesia) yang mulai marak di kampus. Menurut temanku ini, organisasi KAMMI sangat mendapat dukungan dari orang kampus, mulai dari dosen, staf administrasi sampai kepada pengurus mesjid.
Pada tahun 1980, 1990 sampai 1998 saya memang melihat HMI tampil meriah dengan kader-kader yang berwawasan luas. Pada tahun 2002 inilah KAMMI mendapat sokongan yang begitu luas. Dulunya ketua Senat Mahasiswa mesti dipegang oleh HMI, tetapi sekarang posisi tersebut beralih ke tangan kader-kader KAMMI.
Pada kesempatan lain teman saya dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) juga memiliki keresahan yang sama dengan HMI. Kalau pada masa dulu 1990 an PMII dan HMI “bersaing” untuk membina di Kampus UI, namun sekarang HMI dan PMII mulai kesulitan mengkonsolidasi mahasiswa kampus.
Sekilas mengenai organisasi KAMMI saya hanya tahu mereka didukung oleh PK (partai Keadilan) sekarang partai ini mengubah nama menjadi PKS.
Saya melihat fenomena kegairahan orang muda muslim belajar di kampus dan berorganisasi melalui KAMMI.
KAMMI tampaknya mampu mengolah dan mencermati isu dan militansi mereka sungguh terjaga. Bedah buku islam, politik dan isu actual juga sering diperbincangkan dalam masjid kampus yang mendukung KAMMI.
Belakangan hari pada tahun 2000 an kelompok Kristen mulai bersiap membentuk angkatan muda yang bericirikan Kristen. Mereka menamakan dirinya AMPDS atau Angkatan Muda Partai Damai Sejahtera.
Saya melihat gejala ini sengaja atau tidak terkesan saling mencontek corak gerakan diantara agama yang berbeda. Ya, itu juga tidak salah contek mencontek demi kebaikan tidaklah keliru. Saya pun kehilangan kontak dengan Teman AMPDS.
Saya mendengar AMPDS agak sibuk konsolidai agar tidak terjadi erpecahan internal.
Saya pun mulai memikirkan kembali Gerakan pada Mahasiswa Kristen. Jujur saja, Saya mau menghindari teori yang dibangun oleh Wismoady, Ia adalah theolog dari GKJ (Gereja Kristen Jawa). Dengan lantang ia berkata “mahasiswa/pemuda Kristen just exist but not living” (Mahasiswa/pemuda sekedar eksis saja tetapi tidak hidup.
Namun pendapat Wismoady ini terus membayangi saya, terlebih lagi Ia pernah mengatakan dengan tajam “Mahasiswa dan Pemuda Kristen hanya sekedar penghias ornament gereja”
Wah, saya pun merasa jadi tertuduh, jelek-jelek begini saya juga masih terdaftar sebagai pemuda gereja, LPMI dan GMKI. Namun saya mencoba berpikir tenang, Wismoady ada benarnya, namun tidak semua yang ia katakanya seluruhnya benar.
Mahasiswa dan Pemuda Kristen Mengupayakan Gerakan Pemikiran
Di dunia maya internet saya melihat banyak obrolan melalui surat elektronik yang dikirim oleh pemuda dan mahasiswa Kristen.
Isi surat elektornik itu banyak mengemukakan rasa iri yang positip terhadap gerakan pemuda mahasiswa islam.
Misalnyanya mereka menyoroti “Lingkar Pena”, seorang pemuda Kristen berkata kepada saya “Kenapa pemuda Kristen tidak satu pun yang ikut dalam Lingkar Pena?”
Saya tidak menjawab pertanyaannya, karena memang pertanyaan itu bersifat retoris saja.
Pemuda Kristen ini pun terus menyerang saya dengan pertanyaan “Kenapa Pemuda Kristen tidak ada yang menulis di kompas?” Saya akhirnya berusaha menenangkan teman ini, saya mengatakan kita tidak perlu iri, karena iri itu tanda orang tak mampu.
Saya pun berfilosopi di depan kawan tersebut, saya berkata padanya, “Kita sedang resah, kita ingin maju, tak perlulah pakai rasa iri segala”
Saya melihat kegagalan organisasi mahasiswa Kristen disebabkan oleh hal yang sangat kompleks. Selain masalah organisasionall, manajemen, teknis, kemandirian dana/daya, yang sangat vital adalah masalah orientasi pergerakan.
Maksud saya yang disebut gerakan adalah gerakan yang luas. Organisasi Mahasiswa Kristen dewasa ini terperangkap dalam ceremonial bergerakan.
Kita hanya sibuk menjaring anggota organisasi mahasiswa pemuda, tanpa pernah mau merinci dengan detail tentang gerakan yang diinginkan.
Khusus mengenai corak gerakan, saya melihat ada beberapa yaitu gerakan moral, gerakan demonstratip, gerakan politik, gerakan massa dan gerakan Pemikiran.
Khusus mengenai gerakan pemikiran perlu saya garis bawahi, gerakan inilah yang paling mungkin untuk kita kembangkan bagi mahasiswa dan pemuda Kristen.
Mengumpulkan puluhan orang dalam waktu satu jama saja kita tidak mampu. Hal ini menggambarkan bahwa orang Kristen tak cocok untuk bermain dalam gerakan Massa. Kelompok-kelompok milisi yang dibangun orang Kristen berbentuk laskar, konsep dan prakteknya gagal total.
Kelompok yang mengusung symbol agama Kristen, umbul-umbul, panji-panji salib dalam massa ribuan orang sebaiknya kita buang pikiran ini jauh-jauh. Karena hal ini hanya memancing fanatisme sempit saja.
Gerakan Politik pun tampaknya kita diperhadapkan dengan kondisi yang suram, Partai yang bercorak kekristen jumlahnya hampir 20 an. Menurut saya keadaan itu tidak normal.
Menurut saya yang paling mungkin kita kelola adalah gerakan pemikiran. Kenapa hal ini saya kedepankan, saya telah melihat banyak bahwa sebenarnya mahaiswa Kristen dan pemuda Kristen banyak yang berpikir maju.
Hanya kita perlu secara sungguh-sungguh mengelola pemikiran macam apa yang perlu kita kembangkan.
Leimena pernah berkata “Umat Kristen bukanlah suatu minoritas, dilihat dari sudut kewarganegaraan, ia bukan warganegara kelas dua atau kelas tiga, Ia adalah warganegara yang mempunyai hak dan sama kewajiban dengan warganegara lain.”
Saya menyetujui ucapan Leimena itu, meskipun kita jumlahnya minoritas namun kita sama. Kita (Mahasiswa/pemuda Kristen) akan mendapatkan pengakuan eksistensi dan mempunyai pengaruh kalau saja kita menampilkan pemikiran yang cemerlang untuk bangsa dan Negara.
Hanya saja kita selama ini agak repot dan banyak mengurusi Pancasila saja, mestinya kita lebih jauh lagi dari itu.
Di televisi dan Koran-koran orang berdebat tentang minoritas dan mayoritas. Akhirnya saya bertanya “Apakah Kelompok-kelompok minoritas-religius, etnis maupun bahasa-tidak memiliki peluang untuk merealisasikan kehendak mereka secara politis?”
Pertanyaan saya itu dijawab oleh Habermas “Mereka (baca: minoritas) hanya menunggu sampai bisa meyakinkan kelompok mayoritas di dalam kompetisi pendapat yang bersifat bebas dan public agar kemudian dapat mewujudkan kehendak mereka”
Habermas adalah seorang Filsup Jerman. Saya setuju dengan komentar Habermas, artinya bagi kita sekarang adalah.
Marilah kita berkompetisi memainkan argumentasi dan pemikiran dalam ruang public secara bebas. Pemuda dan Mahasiswa Kristen berpeluang untuk memberikan pemikiran yang cemerlang. Agar pikiran mahasiswa dan pemuda Kristen itu sungguh-sungguh kena dengan masyarakat mesti terlebih dahulu kalangan Kristen mengadakan pengujian dan pembuktian pikiran tersebut.
Kalau Gerakan Pemikiran kita baik dan bagus saya tak akan heran kalau pemuda dan mahasiswa Kristen akan dianggap bermanfaat dan berguna untuk bangsa, gereja dan Negara.
Jakarta, 19 April 2008
Terima Kasih.
Yanedi Jagau
[1] Anggaran Dasar-Anggaran Rumah Tangga GMKI