Gerakan Oikoumene Kreativ Bagi Pemuda

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Apa itu Oikoumene?
 
Kata Oikoumene (juga oecumenism dan ekumene) diambil dari bahasa Ibrani, berasal dari kata oikos yang artinya “rumah yang didiami”. Jika dicari padanannya dengan bahasa Indonesia barangkali lebih cocok artinya “Rumahtangga Tuhan untuk penghuni alam semesta”. Jadi, Ecumenism mengartikan rumah Tuhan yang didiami di bumi.
Rumah/Oikoumene itu mempunyai unsur yang terdiri dari kasih, keadilan, harmoni, perdamaian, mengampuni dan kebajikan (Yesaya 1:16-17) (Yesaya 65: 17-25)


Lebih lanjut dalam perkembangannya Paham Oikoumene (Oikoumenism) diartikan sebagai upaya mewujudkan keesaan gereja, dan umat dari berbagai lintas  agama serta berbagai ideology untuk hidup yang berkelimpahan. Seperti Yesus mengatakan tentang keesaan seperti yang tertulis dalam Johanes 17:20-21 “ Supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku.
Realitas menunjukkan gerakan oikoumene di Indonesia, masih jauh dari yang diharapkan, atau boleh dikatakan masih tersendat-sendat perjalanannya dalam wajah Kekristenan di Indonesia selama ini.
Contohnya, bertambahnya sinode di salah satu daerah cenderung dikarenakan karena perbedaan dogma dan perpecahan kepentingan organisasi elit gereja. Pertambahan sinode gereja di Indonesia tidak identik dengan bertambahnya jiwa baru dikarenakan penyebaran Injil.
Kesimpulan dasar kita tentang oikoumene dari kata yang dikemukakan diatas, secara harafiah arti Ecumenism berarti mengajak semua orang tanpa terkecuali untuk hidup dalam persekutuan yang menjujung tinggi niliai-nilai keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. 

Mengapa Oikoumene dibutuhkan?
 
Alam semesta yang dihuni oleh semua mahluk pada saat ini sedang dalam keprihatinan, kelaparan, bencana dan peperangan. Oleh karena itu diperlukan semangat untuk mengatasi segala masalah-masalah tersebut. Konsep Oikoumene mempunyai tujuan membangun bumi yang baru, yang damai dan harmonis bagi keseluruhan ciptaan Tuhan (Wahyu 21 : 1).
Dunia yang didiami pada saat ini sangat berlawanan dengan  janji bumi baru dan surga yang baru
Visi Gerakan Oikoumene pada dasarnya, berisikan unsur yang terdiri dari Dialog, Solidaritas, Kasih, Inklusiv dan kesederajatan.

Pemuda dan Gerakan Oikoumene
 
Pemuda adalah individu yang mengalami pertumbuhan secara fisik, dan emosional, sehingga dia merupakan sumber daya manusia membangun baik saat ini, maupun yang akan datang. Pasalnya, ditangan pemudalah yang akan menggantikan generasi sebelumnya.
Dalam kamus Websters, Princeton mengartikan bahwa youth yang diterjemahkan sebagai pemuda, adalah the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person?
Dari definisi ini, maka dapat diinterpretasikan pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, bergejolak, dan optimis.  Namun, belum memiliki pengendalian emosi yang stabil. Berhubungan dengan itu pemuda menghadapi masa perubahan sosial maupun kultural.
Berhubung tiap gereja memiliki sumber daya muda, perlulah dipikirkan, dan prioritas dalam agenda pembangunan melalui penyusunan kebijakan program. Tentu saja melihat karakteristik pemuda yang merupakan potensi dalam membangun generasi penerus.
Bagi kehidupan gereja, posisi pemuda mendapat tempat yang penting, tugas kita dalam konteks ini adalah memastikan keterlibatan pemuda agar aktif dalam berbagai kegiatan oikoumenikal. Gerakan Oikoumene seharusnya sejak dini mesti ditanamkan dan dipupuk dalam diri seseorang individu. Seluruh upaya gereja akan menjadi sia-sia bilamana pemuda tidak terlibat menjadi pelaku aktif gerakan oikoumene.
Dalam dunia yang dihadapi sekarang, isu-isu yang dominan berkaitan dengan pemuda antara lain pendidikan dan tenaga kerja, disamping aspek lainnya antara lain narkoba, kesehatan, partisipasi dalam pengambilan keputusan dan lain-lain. Pada tulisan ini akan diajukan Penggalangan Gerakan Oikoumene bagi Pemuda agar menjadi bagian penggerak oikoumene di Indonesia dan dunia secara luas.
Sekilas Sejarah Gerakan Oikoumene di Indonesia
Gerakan Oikoumene di Indonesia pada awalnya diilhami oleh terbentuknya Dewan Gereja Sedunia (WCC 1948).  Gereja-gereja di Indonesia berinisiatif mendirikan Dewan Gereja-gereja di Indonesia pada tahun 1950. Sejak 1984 DGI ini berganti nama menjadi PGI  (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia)
Sebagaimana sering disebutkan, bahwa gereja di Indonesia bertumbuh dan mula-mula di bawa oleh oleh misionaris dari Eropa, dan pendekatan yang mereka gunakan adalah dengan menjangkau suku-suku di Indonesia.
Namun dalam perkembangannya gereja-gereja belum terkontekstualisasi dan kurang membumi dengan budaya setempat,  terlebih lagi gereja belum mempersiapkan warganya untuk hidup dalam masyarakat yang berciri majemuk.
Dalam suasana seperti itu PGI berupaya membuat program yang menolong warga gereja keluar dari berbagai permasalahan. Menurut Theodor Muller-Krueger, sejak pembentukannya tahun 1950, PGI sudah melaksanakan program penggalangan keesaan gereja.
Program itu merefleksikan komitmen PGI dalam melanjutkan slogan Dewan Gereja Dunia yang berbunyi Pelayanan Mempersatukan, Ajaran Memisahkan (Services Unites, Doctrine divides) 
            Persoalannya mampukah PGI dan gereja-gereja mempelopori gerakan oikoumene sebagai salah satu prioritas dalam program dan aksi  penatalayanan alam semesta. Mari secara bersama-sama kita mencari jawabnya. 
 
Pendidikan Oikomene Kreativ bagi Orang Muda
 
Menggalang gerakan Oikoumene bagi generasi muda dapat ditempuh dengan cara yang kreatif, dan konstruktif.  Sebelum kita mengulas dua hal tersebut, perlu dipahami bahwa pembelajaran  Oikoumene adalah proses yang mencakup, diantaranya:
- Pembelajaran yang menggunakan prinsip lintas budaya, lintas agama dan sukubangsa.
- Perjumpaan seorang individu dengan golongan dan kelompok yang berbeda
- Pembelajaran yang berakar dari iman, tradisi, budaya, dan konteks pergumulan.
- Pembelajaran yang memampukan seseorang untuk berjumpa dengan Tuhannya.
- Pembelajaran Oikoumene itu juga mencerahkan berbagai tradisi, dan budaya.
 
Pendidikan oikoumene juga dapat diartikan sebagai pembelajaran antara orang yang satu dengan yang lainnya. Disini sengaja digunakan kata pendidikan, karena didalam konsep pendidikan itu tercakup  pembelajaran dan pengkaderan.
Dari jauh hari Paulo Fraire seorang pakar pendidikan dari Brasil mengajukan konsep pendidikan yang membebaskan. Paulo Freire dikenal sebagai inisiator Pendidikan yang membebaskan. Demikian juga pendidikan oikoumene diharapkan menjadi “pendidikan oikoumene yang membebaskan”. Dengan singkat kita mengatakan melalui oikoumene  kita terbebaskan dari pola pikir yang mengkotak-kotakan denominasi gereja, sukubangsa dan lain-lain. 
Memang bukan hal yang mudah bagi orang muda untuk membebaskan dirinya dari sekat pikiran yang telah terbangun selama ini dalam hati dan pikirannya.
Pendidikan oikoumene yang kreatif akan menumbuhkan empati peserta didik terhadap lingkungannya dan dari hal itu peserta didik menemukan jati diriny.a
Sebenarnya kalau mengacu pada prinsip pembelajaran oikoumene yang disebut diatas, rata-rata orang Indonesia telah mendapat pendidikan oikoumene.  Pendidikan oikumene itu kita dapatkan di kampus, sekolah, pusat pelatihan dan lain sebagainya.
Tetapi ingin ditegaskan disini bahwa pendidikan oikoumen tidak melulu pada teori-teori kampus dan sekolah melainkan lebih menekankan pada pengalaman nyata praksis seorang peserta didik berjumpa dengan kenyataan orang di sekitarnya.
            Perbedaan utama pendidikan sekolah dengan pendidikan oikumene, terletak pada konsep praksis. Pendidikan oikoumene bukan sekedar mencari teori baru tetapi mengajak peserta didik untuk merefleksikan kenyataan dan menemukan arti kemudian beranjak menuju aksi. 
 
Menggalang Gerakan Oikoumene bagi Pemuda
 
Kenyataan menunjukkan bahwa jumlah denominasi gereja yang makin banyak jumlahnya tidak membuat solidaritas denominasi gereja makin menguat justru terjadi sebaliknya.
Oleh karena itu dibutuhkan Pendidikan, pembelajaran maupun pengkaderan dalam hal oikoumene agar warga gereja di Indonesia makin solid dan mampu menjadi berkat bagi gereja itu sendiri dan bagi bangsa Indonesia dan dunia secara luas.
Menjadi “berkat” bagi orang lain, dibutuhkan kesabaran dan pola pikir untuk mau memberi sejak dini yang mesti dibangun oleh pemuda dalam menyebarkan gerakan oikoumene yang tidak sekedar retorika.
 
Gerakan oikoumene yang baik tidak akan terjebak dalam penguasaan istilah-istilah oikoumene dan teori yang rumit seperti sekolah dan kampus di Indonesia.
 
Menggalang gerakan oikoumene akan menjadi mudah bilamana setiap warga gereja memandang bahwa Oikoumene memang relevan dan sangat dibutuhkan di Gereja dan kehidupan di Indonesia.
 
Masalahnya, gereja di indonesia sering lalai dan masih asyik dengan dirinya sendiri. Cenderung para pemimpin gereja melihat oikoumene bukan prioritas, hal ini tentu saja kita tak dapat begitu saja menyalahkan gereja-gereja.
 
Gereja merasa sudah aman dan puas dengan keadaan saat ini. Kita tidak menafikan bahwa masih terdapat pola pikir pemimpin gereja yang memandang Pendidikan oikomene bukanlah hal yang penting.
 
Apakah pemuda dapat diharapkan?
Kaum optimis akan menjawab “Tentu saja pemuda bisa, mereka adalah pelopor”
Kaum pesimis tak mau kalah menjawab “pendidikan pemuda kita rendah, mereka banyak menganggur, tak mungkin berharap dari pemuda”
Daripada mengeluh memang lebih baik kita memulai dari sekarang, yang dapat dilakukan dengan biaya murah namun menjangkau secara luas.
Pemuda relatif bersih dari kepentingan politik elit sehingga dia dapat diharapkan menjadi pelopor gerakan oikoumene.
 
Pendidikan Oikoumene itu dapat dilaksanakan melalui acara yang kontekstual dengan pemuda, model yang digunakan yang banyak dipakai saat ini adalah “hidup bersama” (live in) dengan mereka yang tertindas dan terpinggirkan. Dari situ diharapkan terbangun empati yang akan menumbuhkan refleksi dan aksi pemuda.
 
Beberapa pokok pikiran Simon Oxley dalam bukunya Creative Ecumenical Education menuliskan intisari dari pendidikan oikoumene :
-          Mulailah dari konteks masyarakat tempat kita belajar- sosial, agama politik dan membangun berdasarkan pengalaman dan berpikir dari cara berpikir warga setempat.
-          Ini bukan hanya sekedar berbagi antara satu dengan yang lainnya (kita) , tetapi menemukan pengetahuan baru, pertemuan oikoumene nenberikan jalan keluar berdasarkan kepercayaan dan cara pikir dari dan untuk kita.
-          Menembus batas yang dibangun diantara kita-sukubangsa, jenis kelamin, gender, budaya, kelas, politik, ekonomi dll – dan memampukan perbedaan kita menjadi sumber dan bahan pendidikan dan pembelajaran.
-          Membangun persekutuan, gereja yang esa, dan keutuhan ciptaan Tuhan
-          Terbuka dan partisipatif
-          Proses yang menyeluruh jiwa, raga, bathin dan iman kita
-          Pendidikan ini bukan sekedar gerakan oikoumene tetapi lebih dari itu diharapkan menjadi oikoumene dalam pikiran dan perbuatan.
Mengakhiri tulisannya Oxley menyebutkan bahwa  Pendidikan Oikoumene adalah bagaimana kita hadir dalam kehidupan nyata.
 
Untuk menggalang oikoumene dapat digalang melalui dialog, berkemah, latihan kepemimpinan, latihan pidato, seminar, dan lain-lain.
Akhirnya, agar kita diberikan kebijaksanaan, Roh kudus yang daatang dari Tuhan yang akan memampukan kita menggalang gerakan oikoumene.
Akhirnya janganlah kita cepat lelah dalam mewujudkan gerakan oikoumene di Indonesia.

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Counter

Members : 3
Content : 19
Content View Hits : 20694

Poling

Bagaimana pendapat Anda tentang gerakan Oikoumene



Results

Masalah pemuda apa yang harus segera ditangani ?




Results