PEMUDA GEREJA DIPANGGIL MEWUJUDKAN KEUTUHAN CIPTAAN
Written by Yanedi Jagau Monday, 08 September 2008 13:48
Tidak perlu menjadi pakar lingkungan untuk menjadi penyelamat lingkunganPara pemuda gereja kurang berminat melestarikan lingkungan--Sekalipun kondisi lingkungan udara, air dan tanah tercemar,-- minat kaum muda untuk mengatasi pencemaran itu tidak akan muncul dengan sendirinya. Cerita kali yang kotor, sampah yang bertumpuk-tumpuk tak akan ada yang peduli. Jujur saja cerita yang paling menarik minat pemuda adalah cerita gosip, kriminal dan artis yang top. Kondisi lingkungan yang makin mengkuatirkan tidak secara otomatis akan menjamin kaum muda tergerak memusatkan perhatian agar lingkungannya asri dan bersih.
Seorang penyelamat lingkungan sejati tidak muncul secara tiba-tiba, Ia melewati berbagai pergumulan hati, nilai, ideologi dan pilihan yang bermacam ragam. Pemuda gereja lebih menyukai paduan suara dan vokal grup di gereja didasari oleh minat dan bakat. Seorang pemuda menyukai lingkungan yang bersih terawat dan asri karena memang pada dasarnya orang tersebut memiliki pemikiran dan karakter yang berwawasan lingkungan.
Koffi Anan seorang tokoh Afrika mantan sekjend PBB pernah mengatakan “Pemuda tidak perlu harus menjadi seorang Sekjen PBB untuk membawa perdamaian bagi dunia, pemuda yang biasa-biasa saja pun bisa membawa perdamaian”
Dalam hal menyelamatkan lingkungan juga berlaku rumusan
“Tidak perlu menjadi pakar lingkungan untuk menjadi penyelamat lingkungan, pemuda gereja pun bisa”
Oleh karena itulah tulisan ini saya maksudkan untuk bukan mengulas teknis ilmu menyelamatkan lingkungan, tetapi saya akan mencoba membangkitkan minat pemuda gereja untuk menyelamatkan melestarikan lingkungan.
Seorang manusia membutuhkan mitra dalam hidupnya, Eka Budianta seorang environmentalis menuliskan “Kemitraan untuk bernafas” Eka mengatakan dalam ruangan pun kita perlu menjaga mutu udara. Pencemaran ruangan itu dapat berasal dari karpet, cat tembok, asbestos dan berbagai hal lainnya. Kalau manusia ingin menghirup udara sehat dalam ruangan sangat diperlukan mitra yang tidak merokok dll. Mutu udara ruangan tergantung dari mitra yang berupa mahluk hidup dan benda-benda sekelilingnya.
Orang Kristen dipanggil untuk melindungi Alam Semesta dan semua Mahluk agar terwujud keutuhan Ciptaan Tuhan.
Gereja pernah melakukan kekeliruan pada beberapa abad yang lalu dengan menghukum mati Galileo Galilei yang mengatakan bahwa “bumi dan lingkungannya bergerak mengelilingi matahari. Galileo ternyata benar, gereja berabad-abad kemudian meminta maaf. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bahwa gereja juga mesti berhati-hati merumuskan sikap mengenai persoalan lingkungan.
Dalam Alkitab Perjanjjian lama Hal yang mengundang perdebatan dalam pandangan Kristen tentang makna “kuasailah bumi” pada kitab Kejadian Perjanjian Lama? Kata menguasai yang dimaksud dalam kitab Kejadian 1:26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Kuasa yang dimaksud disitu adalah kuasa yang benar sesuai perintah Tuhan, bukan dimaksudkan untuk menguasai dalam pengertian yang menghabisi dan menghancurkan seperti dalam perang dan lain-lain. Kekuasaan mestinya menghidupkan semua mahluk di alam semesta beserta isinya Orang Kristen mestinya peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
Tidak perlu mempertentangkan perintah Allah (untuk “menguasai bumi”) dengan upaya manusia melestarikan alam dan lingkungan. Sekalipun orang Kristen dituduh menghancurkan lingkungan karena mengacu pada isi kitab Kejadian untuk “menguasai”. Kita mesti membaca kitab tersebut dengan mata yang baru, yang perlu dipahami bahwa kitab ini lebih banyak memaparkan mengenai penciptaan alam semesta. Orang Kristen mesti berhikmat menggunakn akal pikiran yang kreatif tentang merawat dan menjaga alam Allah untuk tiap orang.
Penguasaan manusia terhadap Alam dimaksudkan agar manusia sadar dan sungguh-sungguh memperhatikan bahwa yang menciptakan Alam semesta adalah Allah itu sendiri. Eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan adalah gambaran dari kerja manusia “menguasai” yang tidak benar di hadapan Allah. Hati dan sikap manusia yang rakus bukanlah maksud Allah. Dengan kata lain jangan lantaran kata “menguasai” maka manusia diperbolehkan merusak alam dengan sesuka hati. Justru orang Kristen dipanggil untuk mewujudkan Keutuhan Ciptaan dan keadilan bagi semua mahluk termasuk didalamnya alam dan lingkungan tanpa pengecualian. Kehidupan kekristenan yang sejati menuntut kita agar mewujudkan kehidupan menurut perintah Allah secara benar berkuasa atas alam semesta.
Bagaimana Pandangan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tentang Alam dan Lingkungan? Secara umum Perjanjian lama lebih banyak memaparkan proses penciptaan alam semesta dan isinya. Selanjutnya Perjanjian lama juga memaparkan peletakan dasar-dasar budaya dan hukum orang Yahudi, termasuk didalamnya mengenai hubungan manusia dan alam semesta. Isi etika kaum Yahudi juga dipaparkan menurut kebudayaan zaman dan waktu Yahudi pada masa itu yang mengatur cara hidup, ternak, makanan, pakaian dan lain-lain. Sedangkan perjanjian baru lebih banyak mewartakan Yesus Kristus sebagai juruselamat manusia. Secara khusus tentang hubungan Alam dan Manusia, Yesus hanya menyampaikan kalimat-kalimat bijak melalui berbagai perumpamaan.
Selain itu sumbangan terbesar Yesus adalah membuat intisari hukum Yahudi yang digagas Musa menjadi Hukum Kasih yang terbesar bagi orang Kristen yaitu: Matius 22:37 “Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”. Selain itu Yesus juga mengajar manusia agar berdoa dengan memikirkan dan mewujudkan doa, “Agar kesempurnaan surga boleh juga terjadi atas bumi” sebagaimana yang tertulis Matius 6:10 Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Lingkungan yang kita bayangkan seperti sorga itu diharapkan terjadidan terwujud di bumi yang kita diami.
Alkitab memandang bahwa manusia adalah gambar (image) Allah, oleh karena itu lingkungan semesta mestinya hidup bersama manusia bukan dalam kerangka paradigma antara manusia yang mendominasi atau sebaliknya alam semesta yang mendominasi manusia. Alkitab kaya dengan interpretasi paradigma ekologis. Alkitab memang pada satu sisi mengedepankan manusia (baca: antropologis) sebagai pihak yang berkuasa atas alam, namun yang perlu dipahami bahwa secara ekologis dan theologis menyebutkan bahwa semua mahluk berhak mendapatkan kabar baik dan berkat dari Allah.
Siapakah yang menyebabkan Kerusakan Alam dan lingkungan?
Pihak-pihak yang dapat merrusak alam yaitu pertama dari internal Alam itu sendiri dan kedua adalah manusia. Internal alam itu terlihat dari becana gunung berapi, badai, gempa dll. Manusia adalah penyumbang terbanyak bagi kerusakan alam yang makin cepat, namun manusia juga merupakan salah satu pihak yang mampu mengembalikan perbaikan rehabilitasi dan pemulihan lingkungan alam. Sikap hidup manusia yang terlalu berlebihan menggunakan materi dan energi adalah salah satu penyebab terbesar munculnya kerusakan lingkungan. Sikap manusia yang berlebihan itu didorong oleh nafsu mengkonsumsi yang tak terkendali.
Pemberhalaan terhadap kekayaan materi memunculkan sikap dan prilaku boros. Pencemaran udara, pencemaran daratan, pencemaran air sungai di perkotaan terutama oleh pabrik, kendaraan bermotor memunculkan limbah dan lain-lain. Kesalahan manusia yang sering terlihat adalah mengatasnamakan pencapaian kualitas hidup ekonomi tetapi merusak alam dan lingkungan. Bukankah ini terlihat paradoks, satu sisi ingn menambah penghasilan dan uang secara cepat tetapi mengeksploitasi alam secara membabi buta. Contoh yang jelas tentang pernyataan ini adalah pada kasus illegal logging, illegal minning dan lain-lain.
Kabar Baik Bagi Semua Mahluk
Tampaknya manusia makin tidak bijak menggunakan kekayaan alam ciptaan Tuhan. Manusia tidak lagi menghargai alam bahkan ini disamakan dengan tidak menghargai Tuhan sang pencipta alam. Apa yang dapat gereja lakukan untuk melestarikan lingkungan hidup? Gereja sebagai persekutuan orang percaya mestinya terpanggil untuk mewujudkan keutuhan ciptaan.
Gereja memiliki tugas untuk mewartakan kabar baik, termasuk di dalamnya kabar baik bagi semua mahluk, tidak terlepas juga lingkungan tempat tinggal tempat manusia hidup. Lingkungan,hutan dan udara segar adalah ciptaan Tuhan kristen yang besar. Melalui berbagai kesempatan di mimbar gereja mestinya diberitakan bahwa Yesus adalah pecinta alam yang sejati. Yesus mengajarkan agar orang kristen tidak memberhalakan sungai, pohon dan gunung. Allah adalah Yesus sendiri yang berwujud anak manusia yang hidup bersama manusia dengan kasih dan roh kudus. Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya kita yakini sebagai organisasi untuk membawa kabar baik.
Gereja memelopori berbagai kegiatan masyarakat agar kehidupan manusia yang utuh bersama mahluk lainnya. . Gereja yang didalamnya berisikan warga kristen mesti menjadi pelopor bagi perwujudan keutuhan ciptaan Tuhan. Gereja mendorong agar keadilan bergulung-gulung seperti sungai bagi semua mahluk Gereja mestinya menyampaikan informasi dan etika hidup kristen yang benar kepada umatnya agar menjadi pecinta alam yang sejati.
Mewujudkan Lingkungan hidup yang asri dan lestari adalah salah satu bentuk rasa cinta dan ucapan syukur orang kristen kepada Tuhan dan Pencipta. Gereja juga harus memberikan pencerahan kepada masyarakat. Terutama niat dan keinginan kualitas hidup ekonomi manusia yang tidak harus dilakukan dengan jalan mengeksploitasi alam. Upaya mencapai kualitas hidup enak dan sejahtera tidak harus dilakukan dengan merusak alam, udara air dan darat. Pemuda gereja juga harus bekerjasama dengan pemerintah, LSM dan kelompok masyarakat yang peduli dengan konservasi kehidupan (ekologi).
Khusus mengenai persoalan lingkungan terlihat bahwa Gereja Perkotaan memiliki perbedaan dengan gereja Perdesaan. Gereja di perkotaan menghadapi pencemaran, polusi air udara darat karena industri pabrik dan lain-lain. Sebaliknya pada Gereja Perdesaan, tampak bahwa warga menghadapi eksploitasi lahan, illegal loging, illegal minning dll.
Kesamaan yang didapat pada dua gereja di kota dan di desa adalah sama-sama menghadapi limbah pencemaran. Dampak yang dihadapi oleh umat gereja di kota dan desa sungguh dahsyat, kesehatan dan kualitas hidup umat terancam menurun. Bahkan belakangan ini topik global warming (pemanasan global) dan climate change (keadilan iklim) telah mengemuka dalam berbagai perbincangan masyarakat.
Tugas Gereja yang utama pada bidang lingkungan hidup adalah menyebarluaskan dan membangun paradigma ekologis yang bersumber dari pengkajian dan pemahaman alkitab kristen. Tantangan terbesar gereja-gereja di Indonesia untuk melestarikan alam dan lingkungan? Gereja akan menghadapi umat, warga, organisasi bisnis yang berbeda kepentingan dan pandangan tentang lingkungan hidup. Kelompok kepentingan ini disebut disini antara lain perusahaan, individu maupun organisasi sosial lainnya. Biasanya gereja dibenturkan dengan paradigma mensejahterakan masyarakat melawan upaya paradigma ekologis pelestarian alam (konservasi).
Gereja dan Kaum pecinta lingkungan dituduh sebagai orang aneh yang lebih mencintai satwa (baca: orangutan, harimau, pohon, danau, sungai dll) ketimbang mengutamakan kepentingan ekonomi masyarakat. Selain itu gereja akan dihadapkan pada tarik menarik kepentingan politik, bisnis, dan lingkungan. Dalam hal ini gereja harus memposisikan dirinya secara benar dengan mengedepankan kepentingan manusia yang ramah lingkungan. Gereja tidak boleh juga mengedepankan kepentingan manusia diatas segalanya lalu dengan demikian menindas mahluk semesta lainya. Manusia dan alam semesta adalah ekologi (rumah tinggal kehidupan) yang utuh.
Munculnya istilah ekotheology, Apakah artinya? Ekotheology adalah suatu bentuk kerangka theology yang focus mengkaji hubungan antar agama dengan alam, terutama tentang pencerahan pemikiran yang mengarahkan perhatian untuk kepedulian lingkungan hidup. Ekotheology umumnya memulai pada pandangan hubungan keyakinan manusia yang memikirkan dunia dan eksistensi alam yang mengalami kerusakan alam. Ekotheogi menggali nilai-nilai kehidupan seperti misalnya keberlanjutan, dan dominasi manusia terhadap alam. Agama Kristen dalam kitab suci Perjanjian Lama banyak menyoroti hubungan antara lingkungan dengan manusia. Kajian pada Alkitab kanonik Kristen itu memulai penjelasan seperti yang disebutkan diatas tadi.
Ekotheologi muncul karena kebutuhan manusia untuk menggali nilai-nilai Alkitab dengan paradigma ekologis. Dalam pengertian Kristen, Ekotheologi dimaksudkan sebagai penerang bagi bentuk berpikir manusia dan gereja dalam memandang keidupan alam semesta menurut keyakinan dan kepercayaan Kristen. Gereja masih terkotak-kotak, bagaimana supaya gereja menjadi satu terutama menyelamatkan lingkungan hidup? Gereja harus kreatif dan mengupayakan agar roh kudus menuntun orang-orang percaya di bumi agar membuat gereja enjadi oikoumene seperti tertulis dalam Yohanes 17:21(Ut omnes Ununm Sint). Gereja yang bersatu lebih mudah berjuang menyelamatkan lingkungan ketimbang gereja yang tidak bersatu. Keterpecahan gereja yang terjadi belakarngan ini lebih banyak diakibatkan karena perpecahan pengorganisasian. Selain itu gereja terpecah juga dikarenakan kepentingan uang dan kekuasaan. Kita mesti secara kreatif merancang berbagai konferensi,seminar, dialog dan pertemuan yang bertujuan menyatukan gereja secara organisatoris dan fungsional.
Sekalipun kita belum mampu menyatukan gereja secara organisatoris, tetapi paling tidak orang Kristen mesti mengupayakan agar pemuda gereja mesti menyatukan fungsi terlebih dahulu. Dalam konteks tulisan ini tentu saja fungsi pemuda menyelamatkan lingkungan hidup. Pemuda Kristen dipanggil untuk melindungi Alam Semesta dan semua Mahluk agar terwujud keutuhan Ciptaan Tuhan.
| Comments |
|
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
|
|||||||||||
Powered by !JoomlaComment 3.26




